Safety Management System & Balai Elektronika

henni

Oleh :  Henni Prapto Karnila

Kebijakan mengenai Safety Management System (SMS) di dunia penerbangan berawal dari suatu standar internasional yang dipromosikan oleh ILO (International Labour Organization) atau Organisasi Buruh Internasional yang merupakan salah satu organisasi di bawah PBB.

 Manfaat implementasi SMS adalah untuk menciptakan pelayanan transportasi udara yang aman, nyaman, dan mampu menjamin keselamatan, yang pada akhirnya dapat menekan angka kecelakaan transportasi udara. Hal ini dapat digambarkan dengan teori “fenomena gunung es”, tingkat terjadinya kecelakaan transportasi udara berawal dari insiden dan kondisi laten yang tidak tertangani dengan baik . Pada  level inilah SMS dituntut untuk mampu mengurangi tingkat resiko terjadinya kecelakaan (accident) yang lebih besar.   Contoh sederhana; saat bahan bakar pesawat disimpan dalam tangki penampungan bawah tanah maka potensi bahaya yang timbul adalah rendah (low). Potensi bahaya akan meningkat secara signifikan ketika terjadi interaksi pengisian bahan bakar. Oleh karena itu prosedur pengisian (refuelling) harus dibuat berdasarkan identifikasi dan kontrol dari elemen-elemen bahaya dan diimplementasikan untuk menghindari resiko kecelakaan.

Demikian halnya dengan fasilitas elektronik penerbangan yang merupakan salah satu komponen dalam sistem transportasi udara. Saat ada gangguan yang menyebabkan kegagalan komunikasi, alat bantu navigasi, dan lain sebagainya, maka gangguan tersebut harus diidentifikasi dan dikontrol agar potensi bahaya dapat diturunkan.

Selain berorientasi terhadap safety, SMS juga bermanfaat bagi operator jasa penerbangan untuk melakukan kontrol terhadap tingkat produksi dan proteksi.

SMS dapat digunakan sebagai alat untuk menjaga kondisi operasional tetap berada pada Safety space dimana dalam koridor ini operator akan terhindar dari kerugian dari sisi finansial dan mencegah ”bencana” berupa terjadinya kecelakaan (accident) melalui keseimbangan Financial Management dan Safety Management.

Regulasi dan Penerapan SMS

International Civil Aviation Organization (ICAO) merekomendasikan penerapan SMS pada semua otoritas penerbangan. ICAO telah menyediakan sumber daya untuk membantu pelaksanaan, termasuk Manual Manajemen Keselamatan ICAO. Fokus SMS yang diterapkan dalam dunia penerbangan berbeda dengan fokus keselamatan kerja konvensional, fokus SMS adalah untuk mengelola keselamatan penerbangan.

Amerika Serikat telah memperkenalkan SMS untuk bandar udara melalui Advisory Circular 150/5200-37Introduction to Safety Management Systems (SMS) for Airport Operators (2007) yang memberikan arahan dan petunjuk bagaimana bandar udara sebagai operator menerapkan SMS.

Regulasi tentang SMS tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan pada Bab XII: Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan. Definisi SMS kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan nomor 20 tahun 2009 (KM 20/2009) tentang Sistem Manajemen Keselamatan (Safety Management System). Peraturan tersebut sejalan dengan UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. UU tersebut melindungi konsumen dengan cara mengatur mengenai kewajiban serta tanggung jawab pelaku usaha sehingga konsumen tidak akan dirugikan oleh pelaku usaha.

KM 20/2009 menetapkan target penerapan SMS oleh penyedia layanan;

  1. Operator pesawat atau penyedia layanan lainnya
  2. Operator Bandar udara Internasional
  3. Operator Bandar udara Domestik

Dari penetapan target pelaksanaan SMS tersebut secara jelas disebutkan bahwa penyedia layanan angkutan udara ditujukan untuk sisi operator pesawat dan operator bandar udara Internasional maupun domestik.

Salah satu hal penting dalam mendukung SMS adalah bandar udara harus mampu menjamin peralatan fasilitas dan listrik penerbangan dalam kondisi terpelihara dan siap dioperasikan, hal tersebut diatur dalam Keputusan Dirjen Perhubungan Udara Nomor:  SKEP/157/IX/03 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Pelaporan Peralatan Fasilitas Elektronika dan Listrik Penerbangan. Dalam SKEP/157/IX/03 disebutkan pula bahwa Balai Elektronika sebagai bagian dari unit kerja di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memiliki peran yang penting dalam membantu melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan peralatan fasilitas elektronika dan listrik penerbangan. Bantuan teknis dari Balai Elektronika terutama untuk pemeliharaan tingkat II, III, dan IV. Tugas pokok dan fungsi Balai Elektronika tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan nomor sk 39/ot.002/pnb-83, pada Bab I, Pasal 2: Balai elektronika mempunyai tugas melaksanakan kegiatan laboratorium dan perbengkelan fasilitas telekomunikasi penerbangan, navigasi udara dan listrik. Jadi dapat disimpulkan bahwa Balai Elektronika merupakan unsur penting dalam membantu pelaksanaan SMS di bandar udara.

Hubungan Quality Management System dengan Safety Management System.

SMS lahir dari prinsip kualitas (Quality). Prinsip kualitas membantu menjamin sistem dalam organisasi berjalan dan berorientasi kepada safety. Manajemen Kualitas diperkenalkan dalam dunia industri di tahun 1960-an dan telah diterapkan oleh  beberapa elemen dalam organisasi penerbangan. Beberapa organisasi penerbangan telah mengintegrasikan Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) ke dalam apa yang disebut Quality Management System (QMS). QMS merupakan standar internasional yang memberikan petunjuk tentang jaminan mutu. Standar pilihan tergantung pada kompleksitas, ukuran dan produk dari organisasi. International Standard Organization (ISO) 9001 misalnya, adalah satu set standar internasional yang digunakan oleh banyak organisasi untuk melaksanakan QMS dalam proses kerjanya. SMS dan QMS memiliki banyak kesamaan, maka banyak orang beranggapan bahwa organisasi yang telah mendirikan dan mengoperasikan sistem manajemen mutu tidak perlu lagi menerapkan SMS, namun ada sedikit perbedaan penting antara keduanya. Dalam Safety Management Manual – ICAO dijelaskan bahwa perbedaan SMS dan QMS adalah :

-      SMS berfokus pada aspek keselamatan, manusia dan pengelolalaan dalam suatu organisasi (Safety Satisfaction).

-       QMS berfokus pada produk dan jasa dari suatu organisasi (Customer Satisfaction).

Namun demikian adalah mungkin membangun hubungan yang sinergis antara kedua sistem tersebut karena SMS juga dibangun dari prinsip-prinsip QMS.

QMS Mendukung SMS

Penerapan SMS merupakan kebijakan yang harus didukung oleh semua unsur terkait dengan jasa pelayanan penerbangan. Secara kasat mata pihak yang terkait langsung dalam pelayanan jasa penerbangan adalah airport dan maskapai penerbangan, maka SMS penting diterapkan di kedua “wilayah” tersebut. Airport dan maskapai penerbangan dituntut memiliki kebijakan dan arah kerja untuk menjamin jasa yang diberikan berorientasi pada keselamatan (safety). Untuk mendukung penerapan Safety Management System (SMS) di bandar udara sebagaimana fungsi Balai Elektronika sesuai SKEP/157/IX/03, dan KM 20/2009 yang menyatakan bahwa, “Suatu penyedia layanan akan memastikan bahwa kebijakan mutu organisasi adalah konsisten dengan, dan mendukung pemenuhan dari SMS”,  maka Balai Elektronika dapat menerapkan secara internal QMS dan Kebijakan Kualitas (Quality Policy) yang memiliki orientasi pada output berkualitas untuk mendukung tercapainya penyelenggaraan SMS di bandar udara.

SMS merupakan sistem kerja yang dilakukan dalam menjamin dan menciptakan produk/jasa yang ”selamat” (safety), sedangkan QMS adalah sistem kerja yang menjamin dan menciptakan suatu produk yang “berkualitas”.

Semakin tinggi tingkat kemajuan teknologi yang digunakan di bandar udara, semakin tinggi pula tuntutan kepuasan bandar udara terhadap peran Balai Elektronika. Dalam mewujudkan mekanisme kerja yang berorientasi pada kualitas pelayanan maka dapat dimulai dengan menetapkan indikator-indikator misalnya:

  1. Waktu perbaikan fasilitas elektronika dan listrik yang seminimal mungkin.
  2. Respon cepat Balai Elektronika terhadap kerusakan di bandar udara.
  3. Tingkat rasio jumlah perbaikan per tahun yang semakin tinggi.
  4. Jumlah lisensi dan rating yang dimiliki teknisi.
  5. Tingkat keberhasilan perbaikan di lokasi bandar udara.

Setiap indikator yang telah ditetapkan diberikan target pencapain dan dimonitor secara periodik sebagai evaluasi dan kontrol terhadap pelaksanaan QMS. Khusus indikator yang tidak mencapai target, harus dicari solusi perbaikannya. Dengan monitoring secara berkala terhadap kinerja Balai Elektronika melalui QMS diharapkan kinerja Balai Elektronika yang efektif dan efisien dalam rangka mendukung program Safety Manajemen System dapat terwujud.

Referensi :

- Undang-undang Nomor 1 tahun 2009

- Surat Keputusan Menteri Perhubungan nomor 20 tahun 2009

- Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Udara Nomor: SKEP/157/IX/03

- Safety Management Manual, ICAO

3 Responses to Safety Management System & Balai Elektronika

  1. dedi ibot says:

    maju terus pak Heni :)

  2. ono knkt says:

    Wah sangat bermanfaat,bisa jadi investigator knkt nih pak henny karmilla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>